Kamis, 21 September 2023

CERITA PENDEK "KINARAKU"

 

KINARAKU

By Fitri Yuliani

Sorak sorai penonton membahana di setiap sudut sebuah gedung olahraga di Kota Bandung, pertanda bahwa pertandingan basket yang sedang berlangsung sangatlah seru. Sepertinya sudah menjadi keharusan jika SMA Tunas Bangsa dan SMA Pelita Harapan yang bertarung di babak Final. Entah ini merupakan sejarah sejak zaman dahulu atau bukan, namun menurut cerita para alumni SMA Tunas Bangsa, konon katanya jika diadakan pertandingan basket antar sekolah maka selalu saja SMA Pelita Harapan yang menjadi lawan sekolahnya untuk memperebutkan juara 1.

Kinaraaaaa…. Ayo Kinaraaa….

Terdengar beberapa penonton meneriakan nama sosok perempuan yang sedang bergerak lincah mengerahkan seluruh kemampuannya mendrible bola, dan yaaa…. Ring lawan kembali kebobolan, sontak para pendukung SMA Tunas Bangsa bersorak gembira, yel yel kebanggaan pun kembali bergema, kamu hebat Kinara. Senyum mengembang di bibir seorang laki-laki tampan yang sedang duduk memegang dua botol air mineral di jajaran kursi VIP, namun itu tak berlangsung lama karena di detik berikutnya Raffa tampak tersipu malu tatkala sang kekasih berulah dengan memberikan kecupan jarak jauh yang ditujukan padanya.

Raffa dan Kinara, siapa yang tidak mengenal pasangan legend yang terjalin semenjak kelas X ini. Raffa Prayoga Bimantara adalah Ketua OSIS SMA Tunas Bangsa yang tampan dan berprestasi di bidang akademik sedangkan Ayudia Kinara merupakan salah satu primadona di sekolah yang berprestasi di bidang olahraga basket.

 

Priiitttt…

Wasit membunyikan pluitnya menandakan bahwa para pemain dipersilahkan untuk beristirahat sejenak, Raffa pun bergegas turun untuk menghampiri tim basket putri kebanggaan SMA Tunas Bangsa.

 “Ini air minumnya” Raffa menyodorkan sebotol air mineral untuk Kinara, sang bintang lapangan yang sedang dilanda kehausan langsung menyambar dan meminumnya hingga habis lebih dari setengah botol.

“Kamu kasih gula?” tanya Kinara

“Engga” jawab Raffa bingung

“Naha amis Fa?” tanya Kinara yang sontak membuat Raffa mengerutkan dahinya

“Mungkin karena sambil mandangin kamu kali ya” gombal Kinara sambil nyengir tanpa dosa, perempuan yang satu ini memang titisan buaya, banyak laki-laki di sekolah yang menjadi korban keisengannya di kala dia suntuk, bahkan tukang kebun sekolah yang sudah menyandang gelar aki-aki pun pernah digombalinya.

“Win, ini” Rafa menyodorkan sebotol air pada Winda yang  duduk disamping Kinara

“Makasih Fa, aku bawa ko” Winda menolak halus sambil berlalu pergi untuk membawa air minum di dalam tas nya. Raffa menghela nafas pelan, ada yang berdenyut nyeri di sudut hatinya namun dia berusaha untuk menyembunyikannya, apalagi ada Kinara disana, Raffa tidak mau Kinara sampai mengetahui perasaan yang selama ini selalu tertutup dari siapapun.

 

Pertandingan selanjutnya kembali dimulai, Raffa menyaksikan kehebatan tim putri SMA Tunas Bangsa di tempat duduk semula. Matanya fokus menatap lurus ke lapangan, namun bukan sosok tinggi putih dengan rambut diikat ekor kuda yang dia pandangi melainkan gadis manis berlesung pipi dengan nomor punggung 12. Raffa sadar jika hatinya berkhianat, karena hingga saat ini perasaan itu masih saja bersemayam untuk cinta monyetnya dulu. Raffa mengenal Winda ketika mengikuti les di sebuah Bimbingan Belajar sewaktu dirinya masih duduk di bangku SMP kelas VIII, jauh sebelum Raffa mengenal Kinara. Gadis berparas manis yang mampu membangkitkan lagi semangat hidup Raffa setelah sekian lama terpuruk semenjak kepergian ibunda tercintanya. Namun ketika Raffa naik ke kelas IX, dia tidak pernah bertemu lagi dengan Winda di tempat les, dan menurut kabar dari teman satu sekolahnya Winda pindah sekolah dikarenakan ayahnya pindah tugas. Raffa hanya bisa tersenyum getir, takdir baik belum berpihak padanya, Raffa kembali merasa kehilangan, setelah ibunya pergi kini Winda pun meninggalkannya tanpa ada kata pamit. 

Di tahun ajaran baru ketika Raffa memasuki tingkat kelas XII, dia merasa seperti mendapatkan kejutan besar karena kehadiran seorang murid baru di sekolah. Ya, dia adalah Winda, perempuan yang pernah mengisi kekosongan hati Raffa. Tidak banyak yang berubah dari penampilan Winda, tatapan matanya masih seteduh dulu, senyumnya pun masih sama manisnya, yang berubah pada diri Winda yaitu satu, semakin cantik. Dan Raffa menyadari, getar itu masih ada, rasa itu masih nyata, namun sayang dia hanya bisa menatap saja tanpa bisa menggapai apalagi memiliki.

 

Bunyi peluit panjang dan gemuruh penonton membuyarkan lamunan Raffa, dia terhanyut dalam lamunan sehingga tidak menyadari bahwa pertandingan basket telah usai dan dimenangkan oleh tim SMA Tunas Bangsa, ucapan selamat dan juga pelukan kebahagiaan tak hentinya didapatkan oleh seluruh srikandi lapangan basket, bahkan tangis bahagia pun tampak membasahi wajah-wajah lelah para pahlawan sekolah.

“Yu…” ajak Raffa pada Kinara setelah dirasa cukup lama menghabiskan waktu untuk bereforia bersama teman-teman satu timnya.

“Gendong, kaki aku lemes” jawab Kinara dengan ekspresi manja dan mengangkat kedua tangannya ke atas pertanda bahwa dia betul-betul ingin digendong oleh Raffa.

“Ogoan, buru ah” tolak Raffa sambil melangkah pergi yang alhasil membuat Kinara terpaksa mengikutinya dengan bibir komat kamit tak jelas

“Ga usah mengumpat” ucap Raffa tanpa menoleh seolah tahu apa yang dilakukan pacarnya di belakang dirinya, otomatis Kinara makin sebal lalu dengan setengah berlari dia mendahului Raffa dan bergabung bersama para supporter sekolahnya.

“Dasar budak liwar” gerutu Raffa pelan, selanjutnya tugasnya bertambah karena harus konsentrasi penuh untuk memantau pergerakan pacar manjanya, lengah sedikit bisa hilang entah ikut  pulang dengan siapa. Raffa tetap berusaha fokus pada Kinara, hingga tak sengaja pandangan matanya tertuju pada sosok perempuan yang baru saja keluar dari ruang ganti. Deg… Winda.

“Aku duluan ya Fa” pamit Winda sambil tersenyum ramah

“Eh.. eu… i..iya Win” jawab Raffa gelagapan

 

Dan betul saja, setelah beberapa saat terpaku karena perbincangan singkatnya bersama Winda, Raffa kehilangan jejak Kinara. Raffa pun panik dan bergegas menuju tempat parkir, berharap barbie cantiknya sedang duduk manis menunggunya disana. Namun harapan Raffa pupus sudah tatkala tidak ada Kinara disana, bahkan helm pink milik Kinara pun sudah tidak ada di gantungan motor milik Raffa. Raffa menghela nafas dalam, menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menambah stok kesabarannya. Pacarnya itu memang unik, ratu gombal tapi gampang pundungan.

Setelah dirasa tenang, akhirnya Raffa memutuskan untuk ke rumah Kinara saja, mengantarkan tas milik Kinara sekalian menemuinya disana. Namun lagi dan lagi Raffa harus mengelus dada tatkala asisten rumah tangga yang berdiri menyambutnya di depan rumah, tentu saja atas instruksi tuan putri yang sedang melakukan aksi protes. Biarlah, toh besok juga sembuh, pikir Raffa sambil membelokan motornya menuju arah jalan pulang.

 

Beberapa bulan berlalu, Raffa dan Kinara telah menyelesaikan Ujian Akhir dan sedang dalam masa mempersiapkan untuk melanjutkan kuliah. Hubungan keduanya terlihat baik-baik saja, tidak ada yang berubah hingga suatu hari sepulang sekolah Kinara mendapati Raffa dan Winda sedang ngobrol berdua di ruang OSIS. Sebagai seorang wanita yang memiliki perasaan yang peka tentu Kinara merasa sedikit ada yang janggal melihat kebersamaan mereka berdua, dari pembicaraan mereka Kinara merasa bahwa Raffa dan Winda sangat akrab seperti orang yang sudah saling mengenal lama. Namun Kinara mencoba menepis pikiran buruknya itu dan mencoba untuk tidak ambil pusing dengan kejadian tadi.

Selang beberapa hari kemudian ada satu kejadian lagi yang membuat Kinara kembali mengerutkan keningnya, Kinara memergoki Raffa sedang menatap Winda yang sedang mengobrol di depan kelas bersama teman-temannya. Tatapannya begitu dalam, dan Kinara tahu bahwa itu bukanlah tatapan seorang sahabat. Namun lagi dan lagi Kinara memutuskan untuk tetap berfikir positif dan tidak meragukan kesetiaan Raffa. Sebaik itu kamu,  Kinara...

 

Hari ini tepat aniversary Raffa dan Kinara yang ke-2, pasangan ini  berencana untuk merayakan dinner berdua di café langganan mereka. Tubuh tinggi langsing Kinara yang berbalut dress pink membuat dirinya terlihat sangat cantik. Belum lagi rambut panjangnya yang digerai dengan bagian ujungnya sengaja dibuat menjadi ikal makin membuat tampilan Kinara semakin memukau. Raffa pun tak kalah keren, setelan casual yang dikenakannya malam ini menambah pesona pemuda berusia 18 tahun itu.

Mereka sengaja memilih kursi yang hanya untuk dua orang,  duduk berhadapan dengan sebuah tart kecil lengkap dengan angka 2 diatasnya.  Topik pembicaraan pun entah mengarah kemana, dari yang penting sampai tidak penting semuanya dikupas tuntas. Candaan garing dan gombalan receh Kinara memancing gelak tawa keduanya, terdengar sangat manis,  semanis hati mereka saat ini. Ahh... dunia serasa milik berdua.

Namun sayang, tepat di hari aniversary mereka, sebuah kenyataan terkuak karena kecerobohan Raffa yang meninggalkan ponsel di dalam tas dan lupa mengganti kuncinya. Berawal dari ponsel Raffa yang berdering berulang-ulang hingga akhirnya Kinara memberanikan diri untuk mengangkat telepon yang masuk karena khawatir akan mengganggu kenyamanan pelanggan yang lain. Rupanya papanya Raffa yang menghubungi, mewanti-wanti anaknya untuk pulang tidak terlalu malam.

Kinara pun mulai iseng mengotak-atik ponsel milik Raffa, menunggu Raffa yang cukup lama di toilet membuat Kinara gabut.  Kinara merasa bahwa bahwa apa yang dia lakukan itu sah-sah saja mengingat antara dirinya maupun Raffa sudah sepakat untuk tidak menyimpan rahasia apapun. Berawal dari iseng dan berakhir penyesalan, itulah yang Kinara alami saat ini. Dengan mata kepala sendiri Kinara melihat sebuah fakta yang disembunyikan oleh Raffa dengan begitu rapi. Dunia Kinara hancur mendapati hati Raffa yang tak utuh miliknya, ada nama selain Kinara yang terukir disana. Kinara menangis sambil berjalan menuju pintu keluar, dia tidak peduli tatapan para pengunjung café terhadap dirinya karena di dalam benak Kinara hanya ingin cepat pulang dan menangis di pelukan sang mama.

Raffa yang baru saja kembali dibuat terkejut karena tidak mendapati Kinara disana, hanya tergeletak ponsel dan tas miliknya di atas meja. Seketika Raffa panik dan wajahnya berubah pucat mengingat kemungkinan Kinara yang telah membuka ponsel miliknya. Raffa bergegas ke kasir dan bertanya mengenai keberadaan Kinara pada karyawan café, mereka menyebutkan bahwa Kinara pergi sambil menangis. Tanpa berpikir panjang Raffa segera menjalankan motor miliknya menuju rumah Kinara untuk meminta maaf, dia memacu kendaraannya diatas rata-rata karena dalam benak Raffa hanya Kinara, Kinara dan Kinara. Dan tanpa sadar sebuah belir bening menetes membasahi pipi Raffa, dia menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Raffa menyadari bahwa dirinya salah namun dia tidak sanggup seandainya harus kehilangan Kinara, tidak sekalipun terbersit dalam pikirannya.

 

***

 

Hari ini tepat hari anniversary Raffa dan Kinara yang ke-10, Raffa merayakannya di café yang sama, di kursi yang sama, namun sayang tanpa Kinara. Semenjak kejadian 8 tahun yang lalu, Raffa tidak pernah bertemu kembali dengan Kinara, nomer handphonenya pun tidak bisa dihubungi, begitupun dengan papa mama Kinara yang tutup mulut dengan keberadaan putrinya, Kinara seolah menghilang tanpa kabar.

Tidak pernah ada perempuan lain yang mengisi hidup Raffa setelah kepergian Kinara, tidak juga dengan Winda. Raffa berubah menjadi dingin terhadap perempuan, dia hanya fokus dengan kuliahnya hingga berhasil menyelesaikan S-1 selama 3,5 tahun. Di usia 22 tahun Raffa sudah menjadi seorang karyawan sebuah Bank Swasta di Kota Bandung. Namun walaupun saat ini Raffa sudah terbilang mapan secara financial, tetap saja tidak membuat Raffa membuka hati untuk perempuan manapun kecuali Kinara.

“Sampai kapan kamu akan begini Fa?” papa Raffa menghampiri putranya yang tengah duduk sendiri di café menatap sebuah tart kecil dengan lilin angka 10. Beliau mengikuti anaknya yang malam ini pamit untuk keluar dengan baju rapi layaknya orang yang akan pergi berkencan. Papa Raffa sudah bisa menebak kemana anaknya akan pergi oleh karena itu beliau memutuskan untuk berbicara berdua dengan anak semata wayangnya itu.

“Sampai Kinara kembali” jawab Raffa sambil menghembuskan nafas berat

“Seberapa berarti dia bagi kamu, hingga kamu menutup diri dari perempuan lain diluar sana?” tanya papa Raffa serius

“Segalanya pah, aku sudah membuat dia pergi, aku bodoh pah” jawab Raffa pelan, menatap layar ponsel berlatarkan foto Kinara yang sedang mengenakan seragam SMA. Matanya mengembun, berjuta penyesalan sangat tergambar jelas disana.

“Papa cuma punya kamu Fa, setelah kepergian Mama hanya kamu harta papa yang paling berharga. Melihat kamu seperti ini, hati papa sakit nak” ucap papa Raffa dengan gemetar, berusaha tegar menyembunyikan kesedihannya

“Maafin Raffa pah, udah membuat papa sedih” Raffa menatap papanya dengan perasaan bersalah

“Bangkit nak, semangat untuk mencari cintamu kembali, ada doa papa menyertai, ada doa mama juga, bangkit nak… Yakinlah, Allah akan membantumu membawa Kinara kembali” papa Raffa berkata dengan mata berkaca-kaca, beliau sudah tidak mampu lagi menahan air mata yang sedari 8 tahun lalu selalu ditahannya. Raffa tidak menjawab, dia hanya diam dan menerawang jauh menatap langit malam, menitipkan rindunya pada bintang juga awan. Kinara, aku merindukanmu…

 

***

5 tahun kemudian

“Abaaaahhhh…” suara seorang bocah laki-laki terdengar dari arah ruang tamu, merasa familiar dengan suara itu tentu saja membuat laki-laki paruh baya itu beranjak menghampiri cucu kesayangannya

“Wah… aya Didit geuningan, sini-sini peluk abah” papa Raffa merentangkan kedua tangannya lalu memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Radit

“Sama siapa kesini?” tanya papa Raffa sambil menggendong cucunya menuju teras rumah

“Tuh yayah ” jawab Radit sambil menunjuk Raffa yang memasuki pekarangan dengan membawa beberapa buah keresek belanjaan untuk stok bulanan papa Raffa

“Bunda ga ikut?” tanya papa Raffa heran karena tidak biasanya menantu kesayangannya tidak ikut serta

“Itut bah, itu bunaaaaa…” Raffa berteriak girang begitu melihat Kinara yang baru saja datang dengan semangkok baso di tangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Spensa Sakola Jawara, Sang Juara!”

SMP Negeri 1 Sumedang kembali menunjukkan konsistensinya sebagai sekolah berprestasi. Setiap hari Senin, jargon “Spensa Sakola Jawara, Sang ...

Postingan Populer