KINARAKU
By Fitri Yuliani
Sorak
sorai penonton membahana di setiap sudut sebuah gedung olahraga di Kota
Bandung, pertanda bahwa pertandingan basket yang sedang berlangsung sangatlah
seru. Sepertinya sudah menjadi keharusan jika SMA Tunas Bangsa dan SMA Pelita
Harapan yang bertarung di babak Final. Entah ini merupakan sejarah sejak zaman
dahulu atau bukan, namun menurut cerita para alumni SMA Tunas Bangsa, konon
katanya jika diadakan pertandingan basket antar sekolah maka selalu saja SMA
Pelita Harapan yang menjadi lawan sekolahnya untuk memperebutkan juara 1.
Kinaraaaaa….
Ayo Kinaraaa….
Terdengar
beberapa penonton meneriakan nama sosok perempuan yang sedang bergerak lincah
mengerahkan seluruh kemampuannya mendrible bola, dan yaaa…. Ring lawan kembali
kebobolan, sontak para pendukung SMA Tunas Bangsa bersorak gembira, yel yel
kebanggaan pun kembali bergema, kamu hebat Kinara. Senyum mengembang di bibir
seorang laki-laki tampan yang sedang duduk memegang dua botol air mineral di
jajaran kursi VIP, namun itu tak berlangsung lama karena di detik berikutnya
Raffa tampak tersipu malu tatkala sang kekasih berulah dengan memberikan
kecupan jarak jauh yang ditujukan padanya.
Raffa
dan Kinara, siapa yang tidak mengenal pasangan legend yang terjalin semenjak
kelas X ini. Raffa Prayoga Bimantara adalah Ketua OSIS SMA Tunas Bangsa yang
tampan dan berprestasi di bidang akademik sedangkan Ayudia Kinara merupakan
salah satu primadona di sekolah yang berprestasi di bidang olahraga basket.
Priiitttt…
Wasit
membunyikan pluitnya menandakan bahwa para pemain dipersilahkan untuk
beristirahat sejenak, Raffa pun bergegas turun untuk menghampiri tim basket
putri kebanggaan SMA Tunas Bangsa.
“Ini air minumnya” Raffa menyodorkan sebotol
air mineral untuk Kinara, sang bintang lapangan yang sedang dilanda kehausan
langsung menyambar dan meminumnya hingga habis lebih dari setengah botol.
“Kamu
kasih gula?” tanya Kinara
“Engga”
jawab Raffa bingung
“Naha
amis Fa?” tanya Kinara yang sontak membuat Raffa mengerutkan dahinya
“Mungkin
karena sambil mandangin kamu kali ya” gombal Kinara sambil nyengir tanpa dosa,
perempuan yang satu ini memang titisan buaya, banyak laki-laki di sekolah yang
menjadi korban keisengannya di kala dia suntuk, bahkan tukang kebun sekolah
yang sudah menyandang gelar aki-aki pun pernah digombalinya.
“Win,
ini” Rafa menyodorkan sebotol air pada Winda yang duduk disamping Kinara
“Makasih
Fa, aku bawa ko” Winda menolak halus sambil berlalu pergi untuk membawa air
minum di dalam tas nya. Raffa menghela nafas pelan, ada yang berdenyut nyeri di
sudut hatinya namun dia berusaha untuk menyembunyikannya, apalagi ada Kinara
disana, Raffa tidak mau Kinara sampai mengetahui perasaan yang selama ini
selalu tertutup dari siapapun.
Pertandingan selanjutnya kembali
dimulai, Raffa menyaksikan kehebatan tim putri SMA Tunas Bangsa di tempat duduk
semula. Matanya fokus menatap lurus ke lapangan, namun bukan sosok tinggi putih
dengan rambut diikat ekor kuda yang dia pandangi melainkan gadis manis
berlesung pipi dengan nomor punggung 12. Raffa sadar jika hatinya berkhianat,
karena hingga saat ini perasaan itu masih saja bersemayam untuk cinta monyetnya
dulu. Raffa mengenal Winda ketika mengikuti les di sebuah Bimbingan Belajar
sewaktu dirinya masih duduk di bangku SMP kelas VIII, jauh sebelum Raffa
mengenal Kinara. Gadis berparas manis yang mampu membangkitkan lagi semangat
hidup Raffa setelah sekian lama terpuruk semenjak kepergian ibunda tercintanya.
Namun ketika Raffa naik ke kelas IX, dia tidak pernah bertemu lagi dengan Winda
di tempat les, dan menurut kabar dari teman satu sekolahnya Winda pindah
sekolah dikarenakan ayahnya pindah tugas. Raffa hanya bisa tersenyum getir,
takdir baik belum berpihak padanya, Raffa kembali merasa kehilangan, setelah
ibunya pergi kini Winda pun meninggalkannya tanpa ada kata pamit.
Di tahun ajaran baru ketika Raffa memasuki
tingkat kelas XII, dia merasa seperti mendapatkan kejutan besar karena
kehadiran seorang murid baru di sekolah. Ya, dia adalah Winda, perempuan yang
pernah mengisi kekosongan hati Raffa. Tidak banyak yang berubah dari penampilan
Winda, tatapan matanya masih seteduh dulu, senyumnya pun masih sama manisnya,
yang berubah pada diri Winda yaitu satu, semakin cantik. Dan Raffa menyadari,
getar itu masih ada, rasa itu masih nyata, namun sayang dia hanya bisa menatap
saja tanpa bisa menggapai apalagi memiliki.
Bunyi peluit panjang dan gemuruh
penonton membuyarkan lamunan Raffa, dia terhanyut dalam lamunan sehingga tidak
menyadari bahwa pertandingan basket telah usai dan dimenangkan oleh tim SMA
Tunas Bangsa, ucapan selamat dan juga pelukan kebahagiaan tak hentinya
didapatkan oleh seluruh srikandi lapangan basket, bahkan tangis bahagia pun
tampak membasahi wajah-wajah lelah para pahlawan sekolah.
“Yu…” ajak Raffa pada Kinara
setelah dirasa cukup lama menghabiskan waktu untuk bereforia bersama
teman-teman satu timnya.
“Gendong, kaki aku lemes” jawab
Kinara dengan ekspresi manja dan mengangkat kedua tangannya ke atas pertanda
bahwa dia betul-betul ingin digendong oleh Raffa.
“Ogoan, buru ah” tolak Raffa sambil
melangkah pergi yang alhasil membuat Kinara terpaksa mengikutinya dengan bibir
komat kamit tak jelas
“Ga usah mengumpat” ucap Raffa
tanpa menoleh seolah tahu apa yang dilakukan pacarnya di belakang dirinya,
otomatis Kinara makin sebal lalu dengan setengah berlari dia mendahului Raffa
dan bergabung bersama para supporter sekolahnya.
“Dasar budak liwar” gerutu Raffa
pelan, selanjutnya tugasnya bertambah karena harus konsentrasi penuh untuk
memantau pergerakan pacar manjanya, lengah sedikit bisa hilang entah ikut pulang dengan siapa. Raffa tetap berusaha
fokus pada Kinara, hingga tak sengaja pandangan matanya tertuju pada sosok
perempuan yang baru saja keluar dari ruang ganti. Deg… Winda.
“Aku duluan ya Fa” pamit Winda
sambil tersenyum ramah
“Eh.. eu… i..iya Win” jawab Raffa
gelagapan
Dan betul saja, setelah beberapa
saat terpaku karena perbincangan singkatnya bersama Winda, Raffa kehilangan
jejak Kinara. Raffa pun panik dan bergegas menuju tempat parkir, berharap barbie
cantiknya sedang duduk manis menunggunya disana. Namun harapan Raffa pupus
sudah tatkala tidak ada Kinara disana, bahkan helm pink milik Kinara pun sudah
tidak ada di gantungan motor milik Raffa. Raffa menghela nafas dalam, menghirup
oksigen sebanyak mungkin untuk menambah stok kesabarannya. Pacarnya itu memang
unik, ratu gombal tapi gampang pundungan.
Setelah dirasa tenang, akhirnya
Raffa memutuskan untuk ke rumah Kinara saja, mengantarkan tas milik Kinara
sekalian menemuinya disana. Namun lagi dan lagi Raffa harus mengelus dada
tatkala asisten rumah tangga yang berdiri menyambutnya di depan rumah, tentu
saja atas instruksi tuan putri yang sedang melakukan aksi protes. Biarlah, toh
besok juga sembuh, pikir Raffa sambil membelokan motornya menuju arah jalan
pulang.
Beberapa bulan berlalu, Raffa dan
Kinara telah menyelesaikan Ujian Akhir dan sedang dalam masa mempersiapkan
untuk melanjutkan kuliah. Hubungan keduanya terlihat baik-baik saja, tidak ada
yang berubah hingga suatu hari sepulang sekolah Kinara mendapati Raffa dan
Winda sedang ngobrol berdua di ruang OSIS. Sebagai seorang wanita yang memiliki
perasaan yang peka tentu Kinara merasa sedikit ada yang janggal melihat
kebersamaan mereka berdua, dari pembicaraan mereka Kinara merasa bahwa Raffa
dan Winda sangat akrab seperti orang yang sudah saling mengenal lama. Namun
Kinara mencoba menepis pikiran buruknya itu dan mencoba untuk tidak ambil
pusing dengan kejadian tadi.
Selang beberapa hari kemudian ada satu
kejadian lagi yang membuat Kinara kembali mengerutkan keningnya, Kinara
memergoki Raffa sedang menatap Winda yang sedang mengobrol di depan kelas
bersama teman-temannya. Tatapannya begitu dalam, dan Kinara tahu bahwa itu
bukanlah tatapan seorang sahabat. Namun lagi dan lagi Kinara memutuskan untuk
tetap berfikir positif dan tidak meragukan kesetiaan Raffa. Sebaik itu
kamu, Kinara...
Hari ini tepat aniversary Raffa dan
Kinara yang ke-2, pasangan ini berencana
untuk merayakan dinner berdua di café langganan mereka. Tubuh tinggi langsing Kinara
yang berbalut dress pink membuat dirinya terlihat sangat cantik. Belum lagi
rambut panjangnya yang digerai dengan bagian ujungnya sengaja dibuat menjadi
ikal makin membuat tampilan Kinara semakin memukau. Raffa pun tak kalah keren,
setelan casual yang dikenakannya malam ini menambah pesona pemuda berusia 18
tahun itu.
Mereka
sengaja memilih kursi yang hanya untuk dua orang, duduk berhadapan dengan sebuah tart kecil
lengkap dengan angka 2 diatasnya. Topik
pembicaraan pun entah mengarah kemana, dari yang penting sampai tidak penting
semuanya dikupas tuntas. Candaan garing dan gombalan receh Kinara memancing
gelak tawa keduanya, terdengar sangat manis,
semanis hati mereka saat ini. Ahh... dunia serasa milik berdua.
Namun sayang, tepat di hari
aniversary mereka, sebuah kenyataan terkuak karena kecerobohan Raffa yang
meninggalkan ponsel di dalam tas dan lupa mengganti kuncinya. Berawal dari
ponsel Raffa yang berdering berulang-ulang hingga akhirnya Kinara memberanikan
diri untuk mengangkat telepon yang masuk karena khawatir akan mengganggu kenyamanan pelanggan
yang lain. Rupanya papanya Raffa yang menghubungi, mewanti-wanti anaknya untuk
pulang tidak terlalu malam.
Kinara pun
mulai iseng
mengotak-atik ponsel
milik Raffa, menunggu
Raffa yang cukup lama di toilet membuat Kinara gabut.
Kinara merasa bahwa bahwa apa yang dia lakukan itu sah-sah saja
mengingat antara dirinya maupun Raffa sudah sepakat untuk tidak menyimpan
rahasia apapun.
Berawal dari iseng dan berakhir penyesalan, itulah yang Kinara alami
saat ini. Dengan
mata kepala sendiri Kinara melihat sebuah
fakta yang disembunyikan oleh Raffa dengan begitu rapi. Dunia Kinara hancur
mendapati hati Raffa
yang tak utuh
miliknya, ada nama selain Kinara yang terukir disana. Kinara menangis sambil
berjalan menuju pintu keluar, dia tidak peduli tatapan para pengunjung café
terhadap dirinya karena di dalam benak Kinara hanya ingin cepat pulang dan
menangis di pelukan sang mama.
Raffa yang baru saja kembali
dibuat terkejut karena
tidak mendapati Kinara
disana, hanya tergeletak ponsel dan tas miliknya di atas
meja. Seketika Raffa panik dan wajahnya berubah pucat mengingat kemungkinan
Kinara yang
telah membuka ponsel miliknya. Raffa bergegas ke kasir dan bertanya mengenai keberadaan
Kinara pada karyawan
café, mereka menyebutkan bahwa Kinara pergi sambil menangis. Tanpa berpikir
panjang Raffa segera menjalankan motor miliknya menuju rumah Kinara untuk
meminta maaf, dia memacu kendaraannya diatas rata-rata karena dalam benak Raffa
hanya Kinara, Kinara dan Kinara. Dan tanpa sadar sebuah belir bening menetes
membasahi pipi Raffa, dia menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Raffa
menyadari bahwa dirinya salah namun dia tidak sanggup seandainya harus
kehilangan Kinara, tidak sekalipun terbersit dalam pikirannya.
***
Hari ini tepat hari anniversary
Raffa dan Kinara yang ke-10, Raffa merayakannya di café yang sama, di kursi
yang sama, namun sayang tanpa Kinara. Semenjak kejadian 8 tahun yang lalu,
Raffa tidak pernah bertemu kembali dengan Kinara, nomer handphonenya pun tidak
bisa dihubungi, begitupun dengan papa mama Kinara yang tutup mulut dengan
keberadaan putrinya, Kinara seolah menghilang tanpa kabar.
Tidak pernah ada perempuan lain
yang mengisi hidup Raffa setelah kepergian Kinara, tidak juga dengan Winda.
Raffa berubah menjadi dingin terhadap perempuan, dia hanya fokus dengan
kuliahnya hingga berhasil menyelesaikan S-1 selama 3,5 tahun. Di usia 22 tahun
Raffa sudah menjadi seorang karyawan sebuah Bank Swasta di Kota Bandung. Namun
walaupun saat ini Raffa sudah terbilang mapan secara financial, tetap saja
tidak membuat Raffa membuka hati untuk perempuan manapun kecuali Kinara.
“Sampai kapan kamu akan begini Fa?”
papa Raffa menghampiri putranya yang tengah duduk sendiri di café menatap
sebuah tart kecil dengan lilin angka 10. Beliau mengikuti anaknya yang malam
ini pamit untuk keluar dengan baju rapi layaknya orang yang akan pergi
berkencan. Papa Raffa sudah bisa menebak kemana anaknya akan pergi oleh karena
itu beliau memutuskan untuk berbicara berdua dengan anak semata wayangnya itu.
“Sampai Kinara kembali” jawab Raffa
sambil menghembuskan nafas berat
“Seberapa berarti dia bagi kamu,
hingga kamu menutup diri dari perempuan lain diluar sana?” tanya papa Raffa
serius
“Segalanya pah, aku sudah membuat
dia pergi, aku bodoh pah” jawab Raffa pelan, menatap layar ponsel berlatarkan
foto Kinara yang sedang mengenakan seragam SMA. Matanya mengembun, berjuta
penyesalan sangat tergambar jelas disana.
“Papa cuma punya kamu Fa, setelah
kepergian Mama hanya kamu harta papa yang paling berharga. Melihat kamu seperti
ini, hati papa sakit nak” ucap papa Raffa dengan gemetar, berusaha tegar
menyembunyikan kesedihannya
“Maafin Raffa pah, udah membuat
papa sedih” Raffa menatap papanya dengan perasaan bersalah
“Bangkit nak, semangat untuk
mencari cintamu kembali, ada doa papa menyertai, ada doa mama juga, bangkit
nak… Yakinlah, Allah akan membantumu membawa Kinara kembali” papa Raffa berkata
dengan mata berkaca-kaca, beliau sudah tidak mampu lagi menahan air mata yang
sedari 8 tahun lalu selalu ditahannya. Raffa tidak menjawab, dia hanya diam dan
menerawang jauh menatap langit malam, menitipkan rindunya pada bintang juga awan.
Kinara, aku merindukanmu…
***
5 tahun kemudian
“Abaaaahhhh…” suara seorang bocah
laki-laki terdengar dari arah ruang tamu, merasa familiar dengan suara itu
tentu saja membuat laki-laki paruh baya itu beranjak menghampiri cucu
kesayangannya
“Wah… aya Didit geuningan, sini-sini peluk abah”
papa Raffa merentangkan kedua tangannya lalu memeluk dan mencium pipi kanan dan
kiri Radit
“Sama siapa kesini?” tanya papa
Raffa sambil menggendong cucunya menuju teras rumah
“Tuh yayah ” jawab Radit sambil
menunjuk Raffa yang memasuki pekarangan dengan membawa beberapa buah keresek
belanjaan untuk stok bulanan papa Raffa
“Bunda ga ikut?” tanya papa Raffa
heran karena tidak biasanya menantu kesayangannya tidak ikut serta
“Itut bah, itu bunaaaaa…” Raffa
berteriak girang begitu melihat Kinara yang baru saja datang dengan semangkok
baso di tangannya.